Thursday, 2 December 2010

Ngawur Memahami Islam

by: Khoirul Taqwim

Bisikan berita ghaib ini jangan terlalu di besarkan-besarkan, sebab kita sudah memasuki era zaman yang kurang waras, karena itu di tata dulu pikiran dan jiwa kita agar selalu sehat dalam memahami persoalan, sehingga memunculkan pencerahan jiwa maupun pikiran dalam memahami permasalahan dengan bijak dan berada dalam wilayah yang sehat.

Pada saat membaca tulisan ini kalau bisa dengan santai sambil minum kopi, agar pikiran kita tidak terlalu panas dan ikut-ikutan zaman yang kurang waras, apalagi diperdebatkan yang menjadi debat kusir, sebab ini hanya sebatas bisikan ghaib jangan di buat yang tidak-tidak, tetapi di buat saja dalam wajah oke-oke saja.

Silahkan di baca.....

Gejala ngawur dalam memahami Islam begitu marak saat ini, sehingga kita terkadang sering menemukan pemikiran nyleneh dan terkadang jauh dari apa yang dituduhkan tentang Islam sebenarnya. Peristiwa itu merupakan sesuatu yang sangat memprihatinkan bagi umat Islam, Lalu yang menjadi pertanyaan adalah kenapa ada orang yang ngawur dalam Memahami Islam?...Menjawab pertanyaan ini butuh psikolog agar tahu kenapa dan bagaimana itu bisa terjadi, padahal Islam itu hakikat sebenarnya satu yaitu: suatu ajaran yang di ajarkan nabi Muhammad, namun dalam kenyataannya Islam saat ini telah terjadi pemahaman yang begitu kompleks, ada yang masih bersandarkan wahyu, tetapi ada juga yang sudah membelokkan berdasarkan akal, sehingga dapat di tebak dengan beragam analisa dan pemahaman yang berbeda dalam kehidupan manusia timbullah pikiran yang masih wajar, tetapi ada pula pikiran yang sudah ngawur jauh dari apa yang di maksud Islam itu sendiri.

Pikiran yang ngawur itu terkadang menggelitk bagi orang yang memahami bahwa Islam itu adalah kebenaran dan sekaligus petunjuk bagi umat Islam. tetapi ternyata ada pemikiran yang cenderung memojokkan sehingga mengandung bahasa ngawur seperti Islam itu tolol, Islam Itu teroris, Islam itu bodoh, islam itu pembunuh dan masih banyak lagi bahasa yang ngawur dalam kehidupan manusia yang terus bertanya-tanya tentang Islam dan menjawab Islam secara serampangan jauh dari apa itu islam sebenarnya.

Melihat dari tulisan di atas mengenai ngawur memahami Islam, memunculkan pertanyaan lagi kalau ada manusia yang punya pikiran demikian apa pikirannya sudah tidak waras?...Pertanyaan di atas menggelitik untuk di jawab, kemungkinan butuh psikiater yang menangani kejiwaan kalau menemui orang seperti ini tentang mempertanyakan kewarasan orang tersebut, kalau di lihat dari pikirannya dalam memahami Islam jelaslah tidak waras, tetapi kalau di lihat dari sisi lain mungkin juga waras karena dengan menghujat dia akan terkenal dan mendapat raup untung dengan kepopuleran yang dimiliki, sebab dia punya pikiran yang antik dan unik dalam memahami Islam tentang apa yang dia maksud dalam pikirannya.

Penulis sangat menyadari bahwa gejala kurang sehat dalam berpikir mewabah dalam kenidupan keseharian manusia saat ini, berangkat dari situ terjadilah pemikiran mulai dari yang sangat sederhana sampai yang sulit di cerna akal, berdasarkan dari situ pula kemungkinan terjadi adanya fenomena ngawur dalam memahami Islam sebagai bentuk jawaban pikiran yang tidak sehat, sehingga dengan pikiran yang lagi saket mengganggu manusia dalam memahami persoalan baik mulai dari agama, sosial, budaya, ekonomi dan masih banyak lagi yang jadi korban pemahaman ngawur pada saat manusia itu lagi saket jiwanya.

Pertanyaan terbesar muncul bagaimana cara mengobati manusia yang ngawur dalam memahami Islam?...berangkat dari pertanyaan itu di butuhkan pemikiran yang cerdas dan sehat, kalau ada orang yang ngawur dalam memahami Islam kemungkinan harus di beri obat penenang jiwa atau penenang akal, agar seseorang yang saket dalam memahami tentang Islam yang ngawur tadi dapat sehat kembali dan bergairah lagi untuk berpikir positif tentang keislaman.

Terima kasih sudah mau membaca..........

Ngawur Memahami Islam

by: Khoirul Taqwim

Bisikan berita ghaib ini jangan terlalu di besarkan-besarkan, sebab kita sudah memasuki era zaman yang kurang waras, karena itu di tata dulu pikiran dan jiwa kita agar selalu sehat dalam memahami persoalan, sehingga memunculkan pencerahan jiwa maupun pikiran dalam memahami permasalahan dengan bijak dan berada dalam wilayah yang sehat.

Pada saat membaca tulisan ini kalau bisa dengan santai sambil minum kopi, agar pikiran kita tidak terlalu panas dan ikut-ikutan zaman yang kurang waras, apalagi diperdebatkan yang menjadi debat kusir, sebab ini hanya sebatas bisikan ghaib jangan di buat yang tidak-tidak, tetapi di buat saja dalam wajah oke-oke saja.

Silahkan di baca.....

Gejala ngawur dalam memahami Islam begitu marak saat ini, sehingga kita terkadang sering menemukan pemikiran nyleneh dan terkadang jauh dari apa yang dituduhkan tentang Islam sebenarnya. Peristiwa itu merupakan sesuatu yang sangat memprihatinkan bagi umat Islam, Lalu yang menjadi pertanyaan adalah kenapa ada orang yang ngawur dalam Memahami Islam?...Menjawab pertanyaan ini butuh psikolog agar tahu kenapa dan bagaimana itu bisa terjadi, padahal Islam itu hakikat sebenarnya satu yaitu: suatu ajaran yang di ajarkan nabi Muhammad, namun dalam kenyataannya Islam saat ini telah terjadi pemahaman yang begitu kompleks, ada yang masih bersandarkan wahyu, tetapi ada juga yang sudah membelokkan berdasarkan akal, sehingga dapat di tebak dengan beragam analisa dan pemahaman yang berbeda dalam kehidupan manusia timbullah pikiran yang masih wajar, tetapi ada pula pikiran yang sudah ngawur jauh dari apa yang di maksud Islam itu sendiri.

Pikiran yang ngawur itu terkadang menggelitk bagi orang yang memahami bahwa Islam itu adalah kebenaran dan sekaligus petunjuk bagi umat Islam. tetapi ternyata ada pemikiran yang cenderung memojokkan sehingga mengandung bahasa ngawur seperti Islam itu tolol, Islam Itu teroris, Islam itu bodoh, islam itu pembunuh dan masih banyak lagi bahasa yang ngawur dalam kehidupan manusia yang terus bertanya-tanya tentang Islam dan menjawab Islam secara serampangan jauh dari apa itu islam sebenarnya.

Melihat dari tulisan di atas mengenai ngawur memahami Islam, memunculkan pertanyaan lagi kalau ada manusia yang punya pikiran demikian apa pikirannya sudah tidak waras?...Pertanyaan di atas menggelitik untuk di jawab, kemungkinan butuh psikiater yang menangani kejiwaan kalau menemui orang seperti ini tentang mempertanyakan kewarasan orang tersebut, kalau di lihat dari pikirannya dalam memahami Islam jelaslah tidak waras, tetapi kalau di lihat dari sisi lain mungkin juga waras karena dengan menghujat dia akan terkenal dan mendapat raup untung dengan kepopuleran yang dimiliki, sebab dia punya pikiran yang antik dan unik dalam memahami Islam tentang apa yang dia maksud dalam pikirannya.

Penulis sangat menyadari bahwa gejala kurang sehat dalam berpikir mewabah dalam kenidupan keseharian manusia saat ini, berangkat dari situ terjadilah pemikiran mulai dari yang sangat sederhana sampai yang sulit di cerna akal, berdasarkan dari situ pula kemungkinan terjadi adanya fenomena ngawur dalam memahami Islam sebagai bentuk jawaban pikiran yang tidak sehat, sehingga dengan pikiran yang lagi saket mengganggu manusia dalam memahami persoalan baik mulai dari agama, sosial, budaya, ekonomi dan masih banyak lagi yang jadi korban pemahaman ngawur pada saat manusia itu lagi saket jiwanya.

Pertanyaan terbesar muncul bagaimana cara mengobati manusia yang ngawur dalam memahami Islam?...berangkat dari pertanyaan itu di butuhkan pemikiran yang cerdas dan sehat, kalau ada orang yang ngawur dalam memahami Islam kemungkinan harus di beri obat penenang jiwa atau penenang akal, agar seseorang yang saket dalam memahami tentang Islam yang ngawur tadi dapat sehat kembali dan bergairah lagi untuk berpikir positif tentang keislaman.

Terima kasih sudah mau membaca..........

Wednesday, 1 December 2010

Fenomena Menghujat Islam

by: Khoirul Taqwim

Sebelum membaca tulisan ini penulis mengajak kepada sahabat-sahabat dan para pembaca untuk melonggarkan pikiran maupun jiwa terlebih dahulu, agar dalam memahami berita ghaib ini kita dapat lebih nyaman tidak terlalu tegang dan merasa di sudutkan, tetapi kita dapat berjalan bersama dalam satu proses berusaha membangun jiwa dan pikiran kita sebisa mungkin tanpa embel-embel kepentingan terselubung.

Melihat dari perjalanan sejarah Islam permasalahan penghujatan sejak dahulu sudah ada, untuk itu jangan kaget bagi umat Islam kalau ada sebagian pikiran manusia yang punya pandangan ekstrim tentang Islam, bahkan penulis mengakui sejak awal mula nabi Muhammad menyebarkan ajaran Islam itu sudah terjadi penghujatan yang begitu dahsyat, kalau di lihat konteks sejarah ternyata penghujatan Islam itu lebih parah di zaman dahulu kala pada waktu nabi turun. Lalu yang menjadi pertanyaan besar apakah menghujat Islam itu salah atau benar?……….Dari pertanyaan itu diperlukan pemahaman tentang hak individu dan hak sosial, agar seimbang dalam menafsirkan suatu permasalahan, karena bagaimanapun juga hakikat manusia itu sebagai makhluk individu dan ternyata juga sebagai makhluk sosial.

Beberapa hari ini kita sering mendengarkan lewat diskusi maupun lewat dunia tulis menulis tentang penghujatan Islam, sebenarnya ada apa dengan fenomena ini?….pertanyaan ini muncul dalam benak penulis, sehingga menimbulkan pertayaan-pertanyaan dan juga berbagai jawaban, apa memang sudah sedemikian parahnya Islam sehingga mereka melakukan penghujatan habis-habisan, bahkan sang penghujat Islam seolah-olah apa yang di lontarkan itu adalah sebuah kebenaran, walau hanya tahu dari ajaran Islam secara sepotong-sepotong tidak komprehensif, tetapi mereka sudah berani menyimpulkan tentang Islam dengan berbagai wajah yang menghujat. Inilah fenomena yang sangat ironis dan menghasilkan sebuah kritik destruktif.

Di era kebebasan berpendapat ini seorang sebebas-bebasnnya mengkritik maupun menghujat apa benar seperti itu?….tetapi kalau penulis mengamati sebaiknya ada namanya kebebasan yang di warnai semangat tanggung jawab penuh dalam melakukan penafsiran dan pemahaman, baik masalah sosial, budaya maupun agama dengan mengangkat tepa selira (tenggang rasa) sebagai warna memahami persoalan yang ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Menghujat Islam mulai dari perkataan Islam adalah teroris, Islam adalah umat yang gampang marah, Islam adalah tolol atau bentuk-bentuk gambaran lainnya. Berangkat dari situ ada pertanyaan salahkah mereka dengan pemikiran seperti itu?…kalau hemat penulis seharusnya kita sebagai manusia mengedepankan hak sosial tanpa mengingkari hak Individu dalam mengamati suatu permasalahan, bahkan hak sosial seharusnya di tempatkan terlebih dahulu dengan mengangkat nilai tepa selira sebagai bentuk pemahaman dan penafsiran.

Dengan adanya hak sosial merupakan jalan kewajiban sebagai manusia dalam menjalankan keberagaman kehidupan masyarakat, tetapi kalau hak sosial di langgar sudah dapat di pastikan yang ada akan Muncul gesekan, bahkan tidak dapat terhindarkan perang sebagai bentuk jawaban atas pelanggaran sosial.

Pelanggaran hak sosial akan menjadi pemicu konflik baik di wilayah teoritis, bahkan yang lebih berbahaya konflik di wilayah praktis dan tidak dapat di redam kalau tingkat arus bawah sudah tidak terkendalikan dengan adanya penghujatan yang melanggar hak sosial, maka perang atas nama Islam atau atas nama kepercayaan selain Islam akan bergejolak dan membawa perang keyakinan.

Pelanggaran hak sosial sangat berbahaya di banding pelanggaran individu, karena kalau sudah mencakup penghujatan Islam berarti ada pelanggaran sosial dari situ nanti akan ada benih kebencian satu sama lain, sehingga benturan keyakinan akan membawa pecahnya perang yang tidak hanya bersifat individu, namun akan terjadi di wilayah sosial yang tentunya sangat membahayakan kerukunan umat manusia.

Fenomena Menghujat Islam

by: Khoirul Taqwim

Sebelum membaca tulisan ini penulis mengajak kepada sahabat-sahabat dan para pembaca untuk melonggarkan pikiran maupun jiwa terlebih dahulu, agar dalam memahami berita ghaib ini kita dapat lebih nyaman tidak terlalu tegang dan merasa di sudutkan, tetapi kita dapat berjalan bersama dalam satu proses berusaha membangun jiwa dan pikiran kita sebisa mungkin tanpa embel-embel kepentingan terselubung.

Melihat dari perjalanan sejarah Islam permasalahan penghujatan sejak dahulu sudah ada, untuk itu jangan kaget bagi umat Islam kalau ada sebagian pikiran manusia yang punya pandangan ekstrim tentang Islam, bahkan penulis mengakui sejak awal mula nabi Muhammad menyebarkan ajaran Islam itu sudah terjadi penghujatan yang begitu dahsyat, kalau di lihat konteks sejarah ternyata penghujatan Islam itu lebih parah di zaman dahulu kala pada waktu nabi turun. Lalu yang menjadi pertanyaan besar apakah menghujat Islam itu salah atau benar?……….Dari pertanyaan itu diperlukan pemahaman tentang hak individu dan hak sosial, agar seimbang dalam menafsirkan suatu permasalahan, karena bagaimanapun juga hakikat manusia itu sebagai makhluk individu dan ternyata juga sebagai makhluk sosial.

Beberapa hari ini kita sering mendengarkan lewat diskusi maupun lewat dunia tulis menulis tentang penghujatan Islam, sebenarnya ada apa dengan fenomena ini?….pertanyaan ini muncul dalam benak penulis, sehingga menimbulkan pertayaan-pertanyaan dan juga berbagai jawaban, apa memang sudah sedemikian parahnya Islam sehingga mereka melakukan penghujatan habis-habisan, bahkan sang penghujat Islam seolah-olah apa yang di lontarkan itu adalah sebuah kebenaran, walau hanya tahu dari ajaran Islam secara sepotong-sepotong tidak komprehensif, tetapi mereka sudah berani menyimpulkan tentang Islam dengan berbagai wajah yang menghujat. Inilah fenomena yang sangat ironis dan menghasilkan sebuah kritik destruktif.

Di era kebebasan berpendapat ini seorang sebebas-bebasnnya mengkritik maupun menghujat apa benar seperti itu?….tetapi kalau penulis mengamati sebaiknya ada namanya kebebasan yang di warnai semangat tanggung jawab penuh dalam melakukan penafsiran dan pemahaman, baik masalah sosial, budaya maupun agama dengan mengangkat tepa selira (tenggang rasa) sebagai warna memahami persoalan yang ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Menghujat Islam mulai dari perkataan Islam adalah teroris, Islam adalah umat yang gampang marah, Islam adalah tolol atau bentuk-bentuk gambaran lainnya. Berangkat dari situ ada pertanyaan salahkah mereka dengan pemikiran seperti itu?…kalau hemat penulis seharusnya kita sebagai manusia mengedepankan hak sosial tanpa mengingkari hak Individu dalam mengamati suatu permasalahan, bahkan hak sosial seharusnya di tempatkan terlebih dahulu dengan mengangkat nilai tepa selira sebagai bentuk pemahaman dan penafsiran.

Dengan adanya hak sosial merupakan jalan kewajiban sebagai manusia dalam menjalankan keberagaman kehidupan masyarakat, tetapi kalau hak sosial di langgar sudah dapat di pastikan yang ada akan Muncul gesekan, bahkan tidak dapat terhindarkan perang sebagai bentuk jawaban atas pelanggaran sosial.

Pelanggaran hak sosial akan menjadi pemicu konflik baik di wilayah teoritis, bahkan yang lebih berbahaya konflik di wilayah praktis dan tidak dapat di redam kalau tingkat arus bawah sudah tidak terkendalikan dengan adanya penghujatan yang melanggar hak sosial, maka perang atas nama Islam atau atas nama kepercayaan selain Islam akan bergejolak dan membawa perang keyakinan.

Pelanggaran hak sosial sangat berbahaya di banding pelanggaran individu, karena kalau sudah mencakup penghujatan Islam berarti ada pelanggaran sosial dari situ nanti akan ada benih kebencian satu sama lain, sehingga benturan keyakinan akan membawa pecahnya perang yang tidak hanya bersifat individu, namun akan terjadi di wilayah sosial yang tentunya sangat membahayakan kerukunan umat manusia.

Tuesday, 30 November 2010

Rasio Ternyata Penyebab Perang Agama

by: Khoirul Taqwim

Sebelum membahas rasio ternyata penyebab perang agama terlebih dahulu bagi para pengagum rasionalitas saya ajak untuk menarik nafas sedalam mungkin, agar dalam menerima tulisan ghaib ini dapat mencermati dengan santai dan mampu mencerna tentang sebenarnya apa yang terjadi tentang perang agama yang sering menelan korban harta maupun jiwa.

Kejadian perang agama mulai dari tingkat daerah yang terjadi di maluku, poso, bahkan sampai di tingkat Internasional antara palestina melawan Israel ternyata tidak lepas dari peran rasio yang menjadi penyebab terbesar terjadinya konflik berdarah ini, lalu yang menjadi pertanyaan terbesar adalah: apakah benar rasio yang menyebabkan terjadinya perang agama?....berangkat dari situlah perlu adanya suatu kajian tentang rasio dalam memaknai beragam persoalan tentang agama.

Perang agama yang tejadi di masa lalu maupun saat ini merupakan bentuk penafsiran rasio dalam memahami agama sesuai dengan nalar teoritis maupun praktis yang di miliki setiap individu maupun kelompok, sehingga memunculkan perbedaan dalam menghasilkan suatu tafsir agama, sehingga dari perbedaan itu terjadi bola liar yang tidak dapat di hindarkan yang membentuk benturan antar keyakinan.

Rasio mempunyai peran sebagai alat dalam memahami suatu permasalahan atas keajadian dalam persoalan kehidupan beragama, sehingga rasio sangat dominan menjadi penentu perang atau tidaknya dalam kehidupan beragama, berangkat dari argumen itulah berarti terjadinya perang agama akhir-akhir ini tidak lepas dari yang namanya rasionalitas.

Pemicu perang agama di karenakan rasio ekstrim dengan ambisi berlomba-lomba merasionalkan agama sebagai cara menunjukkan superioritas dalam diri agama masing-masing baik secara individu maupun kelompok, sehingga memunculkan gesekan sosial yang terus terjadi dalam kehidupan masyarakat, karena dari situlah muncul keinginan sebagai individu maupun kelompok yang paling kuat di antara satu sama yang lain.

Keberadaan rasio manusia dalam memahami beragam persoalan tidak lepas dari yang namanya hukum rimba yang mempunyai ambisi ingin saling mengalahkan satu sama lain, sehingga memunculkan keinginan berkuasa dari kelompok agama satu dengan menguasai kelompok agama lainnya.

Hakikat rasio manusia sebenarnya ingin berkuasa, berangkat dari hakikat rasio itulah segala cara apapun di lakukan sebagai jawaban dalam meraih kemenangan sebagai petarung rasio sejati, sehingga dari hakikat rasio itu dapat di tarik kesimpulan bahwa rasio manusia ingin paling berkuasa di antara yang lain, kalau ini muncul dalam tatanan keberagaman agama, sudah dapat dipastikan yang ada benturan agama yang saling ingin menjatuhkan agama satu sama yang lain.

Melihat dari beberapa gambaran yang sudah di paparkan tadi dapat di kerucut penyebab terjadinya konflik agama disebabkan keberagaman rasio pembenaran diri tanpa melihat pendapat yang lain dengan arif dalam memahami agama dan juga memposisikan suatu agama tetapi keduanya tidak sejalan dalam pemaknaan, sehingga yang terjadi adalah benturan rasio satu sama lain yang tidak terhindarkan disinilah awal benih perang agama yang jauh dari tepa selira (tenggang rasa) dalam kehidupan beragama.

Penyebab perang agama selain argumen di atas, karena di sebabkan adanya benturan dalam rasio teoritis dengan rasio praktis dalam menyikapi agama tidak sejalan, sehingga keduanya gagal dalam menyikapi tepa selira dalam beragama, sehingga dari situlah nanti timbul perang antar agama dalam kehidupan masyarakat.

Kalau kita simpulkan sementara penyebab perang agama karena rasio ekstrim yang menjadikan saling hujat menghujat satu sama lain, berangkat dari situlah terjadi penyakit rasionalitas yang sudah kronis, sehingga penyakit tersebut mewabah dalam kehidupan masyarakat beragama yang di sebabkan kesehatan rasio sudah terganggu dalam kehidupannya.

Maksud dari tulisan di atas hanya sebagai penyeimbang dan kontrol atas rasionalitas, karena penulis sering mendengar tuduhan rasionalitas kalau yang menyebabkan perang agama adalah ajaran yang tidak tepat dalam agama itu sendiri, tetapi penulis memberikan tanggapan yang berbeda bahwa penyebab perang agama di karenakan rasio manusia dalam memahami ajaran agama terlalu dangkal, sehingga perang tidak dapat di hindarkan dalam kehidupan masyarakat beragama.